28 Nov 2012

makalah 5 - sumber sumber pokok [kitab suci sruti dan smriti]


       I.            Pendahuluan

Dalam agama Hindu ada kepercayaan bahkan agama itu “diwahyukan” melalui “orang-orang yang melihat” , yang disebut Resi. Karena Resi adalah orang-orang yang telah “mendengar”, pengetahuan tadi lalu sering disebut dengan “sruti”. Apa yang didengar biasanya lalu dijadikan teks-teks, yang adakalanya disebut dengan mantra-mantra yang sangat dipentingkan dalam melakukan meditasi; juga sering dikatakan sebagai “kemampuan menyelamatkan akal pikiran”.
Kitab dalam agama Hindu adalah tulisan keagamaan yang paling tua dan dan paling besar didunia. Sangatlah sulit untuk mengklasifikasikan dan menyatakan kapan kitab-kitab ini ditulis dengan benar karena terdapat banyak penulis yang terlibat dalam kurun waktu ribuan tahun. Dan juga, kebiasaan yang ada pada zaman dahulu bahwa seorang penulis tidak akan menuliskan nama mereka pada hasil karyanya yang juga mempersulit masalah ini.
Namun, semua  itu tidak menyurutkan niat penulis untuk membuat makalah ini. Dan untuk memudahkan pembaca dalam memahami materi  tersebut, penulis berusaha menerangkan sesuai kemampuan penulis.

     II.            Kitab Suci
a)      Kitab Sruti ( Weda )
Kitab Sruti termasuk kitab utama dari agama Hindu yaitu Weda. Weda mengajarkan ajaran tertinggi yang diketahui oleh manusia, dan membentuk sumber yang mutlak dalam Agama Hindu. Kata Veda diambil dari kata “Vid” yang berarti “mengetahui”. Sruti dalam bahasa sanskerta berarti “apa yang didengar”.[1] Veda ini adalah kebenaran yang abadi dimana pengamat weda, yang disebut dengan para Resi, yang mendengar wahyu ini ketika mereka melakukan meditasi yang mendalam. Weda bukanlah hasil dari pemikiran manusia, tetapi ungkapan apa yang disadari melalui persepsi intuisi oleh para Resi Weda, yang memiliki kekuatan yang dianggap berasal dari Tuhan.
Kaum Resi menerima wahyu ini atau mendengarnya, dan kemudian direkam dalam empat Weda. Weda-weda tersebut adalah Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Wahyu ini dimunculkan dalam kesadaran para guru, dan pengalaman-pengalaman, intuisi-intuisi mereka, apa yang mereka dengarkan tentang Yang Ilahi dimuat dalam teks empat kitab Weda tersebut. Wahyu Weda, dan oleh karenanya Weda sendiri dirujuk sebagai Sruti, atau “yang didengarkan”; ini kemudian ditambah dengan Smriti, atau “kenangan” yaitu tradisi.[2]
Kehidupan keagamaan umat Hindu didasarkan pada naskah suci yang disebut Weda Samhita, yang mereka yakini sebagai ciptaan Brahma. Hanya para resi saja yang mampu menerima isi Weda tersebut. Isi Weda pada mulanya berbentuk mantra-mantra, kemudian disusun dalam bentuk puji-pujian.Keempat Kitab Suci Weda Samitha tersebut yaitu:[3]
1)      Rig Weda. Rigweda berasal dari kata “rig” yang berarti memuji. Kitab ini berisi 1000 puji-pujian kepada para dewa dalam bentuk kidung, dan masing-masing kidung (sukta) terbagi dalam beberapa bait. Bagian akhir Rig Weda membicarakan perawatan orang mati, pembakaran dan penguburannya. Menurut umat Hindu, Rig Weda ini sangat penting . didalamnya terdapat pengertian dan isyarat akan agama yang monoteistis dengan falsafah yang monistik. Arah monoteisme tersebut muncul sekitar Dewa Prajapati, tuhan Pencipta. Akan tetapi monoteisme disini belum dalam pengertian yang tajam seperti pengertian monoteisme modern.
2)      Sama Weda. Sama Weda merupakan suatu bunga-rampai Rig Weda, dan sangat menekankan pada tanda-tanda irama musik. Tanda-tanda musik ini kemudian  memunculkan musik Karnatik India, music klasik India yang asli. Music Karnatik berhubungan dengan lagu pengabdian pada para dewa dan didasarkan atas tujuh suara: Sa, Re, Ga, Ma, Pa, Dha dan Ni. Kombinasi dan permutasi dari tujuh suara ini digunakan untuk menciptakan irama yang dikenal dengan raga. Sama Weda terdiri dari 1.549 bait. Puji-pujian dinyanyikan diikuti dengan irama musikoleh para pendeta yang disebut udgatar, dan biasanya dilakukan pada waktu upacara korban diselenggarakan.
3)      Yajurweda. Weda ini tidak hanya memuat mantra-mantra dan persembahan Soma saja, akan tetapi juga mantra-mantra yang diucapkan dalam beberapa upacara kecil. Yajur weda memiliki hubungan yang sangat erat dengan Rig weda dan Sama Weda, dan ketiganya sering disebut dengan “Tri-Wedi”.
4)      Atharwa-weda. Para Atharwan adalah golongan pendeta tersendiri. Dalam Weda ini dijumpai lagi kidung-kidung yang harus diucapkan pada waktu mempersembahkan Soma. Isi Atharwa Weda berupa mantra-mantra magis dan doa-doa yang bunyi dan artinya sendiri sudah dianggap sudah memiliki kekuatan. 

Beberapa contoh nyanyian Rig Weda:[4]
POSYAN, DEWA TEMPAT GEMBALA
1.      Hai Posyan, dewa masa keemasan,
Istana engkau, dan lembah jalan pengembala,
Engkau dapat mengalahkan setiap musuh asing,
Jadikanlah jalan kami aman dari segala bahaya,
Hai Posyan, hai pengendara awan !
Tunjukilah kami selamanya, sebagaimana engkau menunjuki kami sebelum ini.

2.      Binasakanlah serigala liar yang jahat itu,
Yang bersembunyi didalam gelap diselat yang sempit,
Dan binasakanlah setiap perampok dan pencuri,
Yang akan beranak pinak untuk membinasakan dan menghabiskan hayat kami.
Posyan, pengendara awan !
Tunjukilah kami, sebagaimana engkau tadinya telah menunjuki kami.

3.      Barulah dalam murkamu, hai Posyan,
Segala perampok yang menjarah kami, di jalan-jalan yang tidak dilalui orang.
Yang mempunyai hati keras tidak menaruh kasihan,
Membunuh dengan anak panahnya yang tidak kelihatan,
Hai anak awan, tunjukilah kami selamanya,
Sebagaimana tadinya engkau menunjuki kami.


Demikianlah beberapa contoh tentang puji dan pujian pengikut-pengikut Rig Weda kepada Tuhan yang disini disebut dengan Dewa, akan tetapi melihat kepada modusnya, maka Tuhan tersebut adalah memiliki alamini, alam atas dan bawah, alam lahir dan bathin, yang menyatakan kepada kita bahwa Tuhan mereka adalah tinggi, tetapi penuh dengan berbagai kabut kemusyrikan, sesuai dengan perkembangan pengetahuan beragama yang baru ada pada masa itu. Ataupun pada masa itu telah baik, tetapi perkembangan kitab-kitab kemudian harinya telah membawa apa yang sampai kepada kita telah terjadi berbagai perubahan atasnya, sebagaimana yang biasanya kita dapati dan ketahui adanya.[5]
1.      Kedudukan Weda[6]
§  Sebagai kitab suci, weda adalah sumber ajaran agama Hindu sebabb dari wedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran weda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab weda (sruti) mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smriti, itihasa, Purana, Tantra, Darsana dan Tatwa-tatwa yag kita wrisi di Indonesia.
§  Sebagai wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa.Setiap halnya setiap ajaran agama memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan bathin dan diyakini pula bahwa ajaran agama itu bersumber pada kitab suci, demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sruti yang artinya didengar.
§  Sebagai sumber hukum Hindu. Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu menjelaskan bahwa weda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu. Menurut kronologisnya, kitab-kitab Hindu dapat kita kenal diantaranya : Weda (Sruti), Smriti (Dharmasastra), Sila (tingkah laku orang suci), Acara ( tradisi yang baik), dan Atmanastuti (keheningan hati).
2.      Para Resi penerima wahyu Weda
Perlu ditandaskan bahwa Weda pada mulanya diterima secara lisan dan disampaikan pula secara lisan mengingat pada waktu Weda diturunkan itu belum dikenal tulisan. Jadi bahasa lisan lebih dulu digunakan baru kemudian ketika tulisan ditemukan mantra-mantra Weda dituliskan kembali dan tentang penulisan kembali ini, secara tradisional berdasarkan kitab-kitab Purana, maharsi Vyasa atau Krsnadvaipayana yag menyusun atau menuliskan kembali ajaran Weda dala himpunan (Samhita) dibantu oleh 4 orang siswanya, yaitu Pulaha atau Paila, diyakini menyusun Rigweda, Vaisampayana menyusun Yajurweda, Jaimini menyusun Samaweda dan Sumantu menyusun Atharwaweda.
Seorang Maharesi adalah tokoh pemikir dan pemimpin agama, ia juga seorang “Jnanin”, filosof dan pejuang dalam bidang agama.ia adalah penyebar ajaran agama dan sekaligus moralis, pendeknya guru dengan berbagai sifat istimewanya yang serba mulia. Dengan sifat tersebut, seorang resi adalah seorang rohaniawann, agamawan dan sekaligus seorang pemimpin.
3.      Penyusunan dan diturunkannya mantra Weda
Umat Hindu berkeyakinan bahwa Weda bersifat Anadi Ananata, yakni tidak berawal dan tida berakhir dan sebagai sabda Brahman. Pada mulanya para Resi meerima wahyu itu lama kemudian setelah tulisan ditemukan, barulah dituliskan mantra-mantra weda itu.
Selanjutnya mengenai kapan Weda itu diturunkan, beberapa sarjana baik dari India maupaun maupun Eropa berpendapat tentang penyusunan Weda sebagai berikut :
v  Vidyaranya menyatakan sekitar 1.500 tahun Sebelum Masehi
v  Lokamaya Tilak Shastri mmenyatakan 6.000 tahun Sebelum Masehi
v  Bal Gangadhar Tilak menyatakan 4.000 tahun Sebelum Masehi
v  Dr. Haug memperkirakan tahun 2.400 Sebelum Masehi
v  Max Muller menyatakan sekitar tahun 1.200-800 Sebelum Masehi
v  Heine Galderen memperkirakan tahun 1.150-1.000 Sebelum Masehi
v  Sylvain Levy memperkirakan tahun 1.000 Sebelum Masehi
v  Stutterheim memperkirakan 1.000-500 Sebelum Masehi

b)     Kitab Smriti
Smriti berarti “Yang diingat”. Kitab Smriti berasal dari Weda dan dianggap berasal dari manusia bukan dari Tuhan. Smriti ditulis untuk dan menjelaskan Weda, membuat Weda dapat dimengerti dan lebih berarti bagi manusia pada umumnya. Semua sumber tulisan selain Weda dan Baghavad Gita secara kolektif disebut dengan Smriti.[7]
Smriti merupakan kelompok kitab kedua sesudah kelompok Sruti (kitab wahyu) dan dianggap sebagai kitab hukum Hindu karena didalamnya banyak dimuat tentang sariat dalam bahasa Arab. Karena itu tidak mengherankan kalau kitab Smriti ini dinyatakan di dalam beberapa kitab sebagai kitab Dharmasastra.[8]
1)      Dharma Sastra. Tulisan ini menggambarkan tentang peraturan dalam tingkah laku manusia yang benar, kesehatan pribadi, administrasi social, etika dan kewajiban moral. Dharma Sastra yang paling terkenal adalah Manu Smriti atau Kode manu, yang terdiri dari 2.694 stanza dalam 12 bab. Manu, nenek moyang ke-65 (inkarnasi dari Tuhan dalam bentuk manusia) Rama, yang menggambarkan tingkah laku dasar untuk mengendalikan diri, tidak melukai, penuh kasih dan dan terikat, yang ditekankan sebagai syarat untuk membentuk masyarakat yang baik.Manu Smriti, adalah kode hokum untuk hidup dengan benar, yang secara terus menerus mendominasi kehidupan etika orang Hindu.
2)      Nibandha. Nibandha adalah bacaan, pedoman, dan ensiklopedia hokum Weda yang menyingggung tentang tingkah laku manusia, pemujaan dan ritual. Nibandha juga membahas tentang topic pemberian hadiah, tempat perziarahan suci, dan menjaga tubuh manusia.
3)      Purana. Purana membentuk sebagian besar kesustraan Smriti. Purana ini muncul dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, dan menjelaskan ajaran bawah sadar dari Weda melalui cerita dan legenda dari raja zaman dahulu, pahlawan, dan sifat-sifat kedewataan. Purana adalah merupakan alat yang sangat terkenal untuk mengajarkan ajaran keagamaan. Ada lima unsur penting dalam kitab-kitab Purana, yaitu[9] :
a.      Sarga (ciptaan alam semesta yang pertama)
b.      Pratisarga (ciptaan alam semesta yang kedua)
c.       Vamsa (keturunan raja-raja dan resi-res)
d.      Manvantara (perubahan Manu-manu)
e.      Vamsanucarita (diskripsi keturunan yang akan datang)

4)      Epos (Cerita Kuno). Dua epos (itihasa) yang paling terkenal dalam agama Hindu adalah Ramayana dan Mahabhrata. Epos ini adalah cerita yang paling terkenal diantara orang Hindu.
5)      Agama atau Tantara. Agama, juga dikenal dengan Tantra, adalah kitab sekterian dari tiga theology Hindu yang utama dalam tradisi agama Hindu, yang bernama Vaisnavism, Sivism, dan Saktism.Vaisnava-Agama memuja kenyataan yang mutlak sebagai Dewa Visnu; Siva-Agama yang memuliakan kenyataan Mutlak yang disebut dengan Dewa Siva;,dan Sakti-Agama yang menyatakan bahwa kenyataan mutlak itu adalah Ibu Mulia jagat raya ini.
6)      Vedanga. Vedanga berarti “penggerak Weda”. Vedanga terdiri dari enam bagian dan juga dianggap sebagai tambahan Weda pada bagian tertentu. Keenam bagian dari Vedanga tersebut membahas tentang hal berikut: Siksa (pengucapan yang benar), Chanda (ukuran), Nirukta (etimologi), Vyakarana (tata bahasa), Jyotisa (astronomi), dan Kalpa (peraturan dalam melaksanakan upacara dan ritual).
7)      Darsana.Kata Darsana berasal dari urat kat a”Drs” yang artinya melihat, menjadi kata Darsana (kata benda) artinya penglihatan atau pandangan. Kata Darsana dalam hubungan ini berarti pandangan tentang kebenaran (filsafat). Darsana atau filsafat ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pandangan orthodoxdisebut juga Astika. Kelompok ini mengakui bahwa Weda mutlak sebagai sabda dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya pandangan heterodox disebut  juga Nastika. Filsafat ini tidak mengakui kebenaran dan kewenangan Weda, terdiri dari 3 filsafat yaitu : Carvaka, Buddha, dan Jaina.
a.      Wedangga. Di dalam memahami Weda dan kitab-kitab yang terkait dengan Weda kita mengenal istilah Weda dan Susastra Weda. Dalam pengertiannya yang sempit, yang dimaksud denga kitab-kitab susastra Weda adalah kitab-kitab Wedangga dan Upaweda. Kitab-kitab Wedangga berisi petunjuk-petunjuk tertentu untuk mendalami Weda, sedang Upaweda, adalah buku-buku yang menunjang pemahaman Weda. Diantara kitab yang termasuk kedalam Wedangga diantaranya : Siksa, Vyakarana, Nirukta, Chanda, Jyotisa, dan Kalpa.
b.      Upaweda. Masing-masing kitab Caturweda memiliki kitab Upaweda. Kitab Upaweda dari Rigweda adalah Ayurweda, kitab Upaweda dari Yajurweda adalah Dhanurweda, kitab Upaweda dari Samaweda adalah Ghandarwaweda dan kitab Upaweda dari Atharwaweda adalah Arthaweda.
c.       Upangaweda. Lebih jauh yang dimaksudkitab-kitab Upangaweda adalah sebagai berikut :
1.      Mimamsa, yang terdiri dari : Purvamimasa dan Uttara Mimamsa
2.      Nyanya, yang terdiri : Nyanya- Vaisesika dan Samkya
3.      Purana, yang terdiri dari : 18 Mahapurana, 18 Upapurana dan Itihasa (Ramayana dan Mahabhrata).
4.      Dharmasastra yang terdiri dari kitab-kitab Smriti dan Dharmasutra[10].
  III.            Kitab Brahmana dan Anyaraka
Berbeda dari naskah atau kitab Samhita, kitab Brahmana disusun oleh para pendeta Brahmana sekitar abad ke-8 SM. Untuk menjelaskan tentang daya kekuatan korban. Dengan kata lain, kitab tersebut bukanlah kitab puji-pujian kepada para dewa, tetapi merupakan kitab yang berisi keterangan-keterangan dari para brahmana tentang korban dan sesaji. Uraian-uraian didalamnya banyak yang membosankan dan sukar dipahami padahal pikiran dasarnya justru sangat sederhana. Keterangan-keterangan tersebut disertai dengan mitos dan legenda tentang manusia dan para dewa dengan memberikan ilustrasi ritus-ritus korban.[11]Brahmana juga menekankan dan membahas upacara pengorbanan dan teknik yang benar dalam pelaksanaannya. Termasuk penjelasan dalam menggunakan mantra dalam upacara dan menimbulkan kekuatan mistik dari pengorbanan itu. Bagian ini disebut dengan Brahmana karena mereka membahas tugas dari para Brahim (pendeta) yang melakukan pada saat upacara pengorbanan.[12]
Kitab Aitareya dan Kausitaki (Samkhayana) merupakan kitab Brahmana dari Rigweda dan Aitareya lebih tua umurnya dan isinyapun lebih tebal. Aitareya merupakan karya gabungan, lima bagian yang pertama (Panchika) lebih tua dibandingkan dengan tiga bagian yang terakhir. Demikian pula hanya 2 kitab Brahmana dan Samaweda yang masih tersisa, yakni : Jaiminiya dan Tandyamaha Brahmana, yang terakhir ini disebut pula Pancavimsa Brahmana.
Pada bagian akhir kitab Brahmana terdapat tambahan, kemudian tambahan inilah yang disebut sebagai kitan Anyaraka. Kitab ini berisi tentang renungan sekitar masalah korban sehingga dianggap sakti. Karena itu mempelajarinya harus ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia, yaitu ditengah-tengah hutan, Aranya = hutan. Aranya (“kitab yang berasal dari hutan”; yaitu buku yang dihasilkan dengan bermeditasi di hutan yang sepi) yang menandai transisi dari pengorbanan Brahmanikal menuju filsafat dan spekulasi metafisika, yang kemudian dimuat dalam Upanisad. Aranyaka terdiri dari interpretasi mistik dari mantra dan upacara, yang disatukan pada saat mengasingkan diri di hutan, yang menimbulkan kedisiplinan. Pengetahuan yang didapat oleh para asketis ini dianggap sebagai wahyu.[13]
Kitab Anyaraka tidak memberikan penjelasan kepada kita tentang aturan dan penjelasan tentang upcara korban, melainkan menyediakan penjelasan mistis tentang upacara agama itu. Sebagai bukti nyata, beberapa kitab Upanishad yang tua didalamnya terdapat naskah-naskah tentang Aranyaka Aitareya Upanishad meliputi Aitareya Aranyaka yang diambil dari Aitareya Brahmana. Pada bagian awal dari Chandogya Upanishad merupaka kitab Anyaraka dari kitab Brahmana kitab Samaweda.Kena (Talavakara) Upanisad merupakan Upanishad dari Jaiminiya Brahmana dari Samaweda.  Semuanya mengandung makna mengenai hal tersebut dengan berbagai puasa di dalam kehidupan hutan (Vanaprashta). Mereka sebagai orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga (Grhastha) tidak terikat dengan kegiatan ritual. Aranyaka menjelaskan tentang arti dan makna upacara agama, kemungkinannya mereka hanya melakukan meditasi dan mencari makna dari upacara-upacara yang suci itu. Perbedaan antara kiat Brahmana dan Aranyaka tidaklah mutlak benar.[14]




  IV.            Daftar Pustaka
Abbas, Zainal Arifin.Perkembangan Pikiran Terhadap Agama. Jakarta: Al-Husna, 1984.
Ali, Mukti.Agama-agama di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1998.
Honing. A.G. Ilmu Agama. Jakarta: Gunung Mulia, 1997.
Pandit, Bansi. Pemikiran Hindu. Surabaya: Paramita, 2006.
Ruslani. Wacana Spiritualitas Timur dan Barat. Yogyakarta: Qalam, 2000.
Titib, I Made. Pengantar Weda. Jakarta: Hanuman Sakti, 1996.


[1] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2006), h. 22
[2] Ruslani, Wacana Spiritualitas Timur dan Barat (Yogyakarta: Qalam,2000), h.92
[3] Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1998), h. 60
[4] Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama (Jakarta:Al-Husna,1984), h.196
[5] Zainal Arifin Abbas, Perkembangan Pikiran Terhadap Agama (Jakarta: Al-Husna,1984), h.198
[6] I Made Titib, Pengantar Weda (Jakarta: Hanuman Sakti,1996), h.19
[7] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita,2006), h.33
[8] I Made Titib, Pengantar Weda, (Jakarta: Hanuman Sakti, 1996), h. 120
[9] I Made Titib, Pengatar Weda, (Jakarta: Hanuman Sakti, 1996), h. 140
[10] I Made Titib, Pengantar Weda, (Jakarta: Hanuman Sakti, 1996), h.119
[11] Mukti Ali, Agama-Agama di Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press,1988), h. 66
[12] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2006), h.27.
[13] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu (Surabaya: Paramita, 2006), h. 27
[14] I Made Titib, Pengantar Weda, (Jakarta: Hauman Sakti, 1996), h.112.


Oleh : Noviah (1111032100045)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Dalam rangka belajar, rasanya tak sempurna blog yang saya terbitkan tanpa adanya sekata dua kata yang dilontarkan. Kiranya pembaca dapat menambahkan kritik, saran maupun komentar untuk perbaikan selanjutnya. Terima Kasih telah di kunjungi... :-)